Memaparkan catatan dengan label Tabligh. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label Tabligh. Papar semua catatan

Jumaat, 7 Januari 2011

Bantu Agama vs Bantu Umat

nah maduhu wanusolli wanusallimu a`la rasulihil kariim,wa a`la alihi wasohbihi wa atba`ihi namalitiddinil qawwim..

kami memuji dan berselawat ke atas Rasul yang mulia dan ke atas Ahli keluarganya,para Sahabatnya dan para Tabi`in yng mendukung agama dan mendirikannya..


Sewaktu Ijtima Raiwind berlansung di Pakistan, datanglah seorang pemain cricket yang terkenal diantara negara2 commonwealth (jajahan british), namanya Imran Khan. Pemain kaya kerana hasil olah raganya. Imran ini pergi berjumpa secara peribadi Maulana Saad semasa ijtima berlangsung, sampai akhirnya ditasykil oleh Maulana Saad untuk keluar di jalan Allah. Namun si pemain cricket ini mengatakan bahwa dia tidak punya waktu kerana kesibukannya.
Sebaliknya dia mengatakan bahawa walaupun dia tidak mempunyai waktu tetapi dia sudah banyak membelanjakan hartanya di sedekahkan untuk pembangunan masjid, madrasah, dan rumah asuhan anak-anak yatim dan lain2.Jadi dia merasa harta yang dia dapatkan sudah dia sisihkan untuk kebaikan umat islam.

Lalu apa jawabnya Maulana Saad :
“Wahai Imran kamu sudah berbuat membantu umat islam tapi kamu belum membantu agama islam.”

ada perbezaan antara membantu ummat islam dan membantu agama islam , contohnya :
1. rumah asuhan anak-anak yatim ini dibangunkan untuk memelihara ummat islam

2. Masjid dibuat bagus2, pasang kipas, kasih karpet ini agar umat islam nyaman ibadahnya.
sedangkan Masjid Nabi SAW sendiri cuma terbina dari pelepah kurma dan pasir tidak ada kipas dan karpet. Sebenarnya tanpa masjidpun kita bisa solat. Di Sudan masjid cuma ditandakan dengan batu. Untuk apa ada masjid ini untuk Ummat islam.

3. Madrasah dibangun agar memberi keselesaan bagi ummat islam untuk belajar.
Dizaman Nabi SAW mereka belajar dibawah-bahan pohon tidak ada madrasah di zaman Nabi SAW.

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi Maulana Saad :
“Kamu memang sudah membantu ummat islam namun apa yang sudah kamu kerjakan untuk agama islam ?”

Mendapatkan pertanyaan seperti ini,Imrann Khan terkejut, kerana baru kali ini ada ulama yang bertanya seperti itu. Sekarang banyak orang yang sudah merasa membantu agama islam padahal belum, ini kerana yang mereka lakukan adalah untuk membantu ummat islam, bukan agama islam. Kita tidak boleh menafikan apa yang orang sudah lakukan untuk ummat islam, karena semuanya juga berpahala dilakukan. Dari membangun masjid, madrasah,rumah asuhan , semuanya ini mendatangkan pahala.

Namun Janji Allah adalah “Barangsiapa membantu agama Allah maka Allah akan bantu dia”
Janji Allah yang pertama ini adalah bagi yang membantu agama Allah baru Allah akan bantu kita.

Bagaimana membantu agama Allah ini adalah dengan mengorbankan dii,harta dan masa keluar di jalan Allah fissabillillah, dengan harta dan diri sendiri.

semoga Allah beri kita peluang dan hidayah untuk kita ambil iktibar amalkan dan sampaikan..

rujukan dan petikan dari:
Bayan Ust. Muhammad Luthfi Al Banjari:Membantu Agama vs. Membantu Ummat
Syura` Indonesia
sewaktu Takrir Musyawarah Indonesia

Selasa, 20 Julai 2010

Dakwah To Nonmuslims - AlAlostari

Friday, January 29, 2010
Dakwah To Non Muslim


Sekarang ini agak begitu kecoh di Kulala Lumpur dikalangan rakan seusaha berkitan Dakwah Kepada Orang Kafir ("Non Muslim").Untuk menafaat semua, di bawah ini saya letakan satu surat pertanyaan dari rakan seusaha kepada Maulana Mufti Ibrahim Desai, South Afica serta jawapannya. Semoga ianya memberi menafaat.Insyaallah.

26 Jan 2009

Assalamu alaykum warahmatullah,

Dear Moulana,

May this e-mail reach you in the best health n Imaan.

1. Moulana, some people claimed that Tablighi Jamaat is not doing what our Beloved Prophet had done which is calling the Non-Muslim towards Allah because till this day there is no effort has been done to called the Non-Muslim to enter Islam by this Jamaat. The Tabligh Jamaat only emphasize on spending time in the path of Allah for 3 days, 40 days & 4 Month which they claim has no basis of whatsoever in the Quraan n Sunnah. What is Moulana opinion pertaining to this matter.

2. I would like to say Jazakallah for the great publication Haven of Serenity which

Was-salam

Munir Mohamad,
Seberang Jaya
Malaysia


ASSALAMU ALAIKUM
19 Safar 1431 (26-01-2010)

Munir Mohammed
Malaysia

Respected Brother,

Your e-mail dated 26-01-2010 refers.

(1) The basis on which they are criticizing the Tablighi Jamaat is baseless. They are in fact talking drivel. If a person recites Qur’aan Shareef in abundance every day, performs his five daily Salaat, but does not perform Tahajjud, it will be wrong to criticize him for reciting Qur’aan in abundance by saying that it is not Sunnat to recite 12 and half Juz a day. No one has the right to impose on another person his personal fancy and inclination. The Shartiah allows a man to recite 10 Juz a day. It is stupid to argue that because there is no basis in the Qur’aan and Sunnah for reciting twelve and half Juz a day, it is wrong and not permissible for this person to recite this amount of Qur’aan.

You should ask those people who are criticizing the Tabligh Jamaat if they are calling non-Muslims to the Path of the Deen? How many of them are making Da’wat to non-Muslims? Why do they want to impose this act on the Tabligh Jamaat when they themselves are not executing it? If a group chooses to do a particular Deeni activity, then no one has the right to criticize them for not doing another Deeni activity. If someone performs 50 raka’ts Nafl a day, no one has the right of criticizing him for not keeping Nafl fasts. If there is a group giving da’wat to non-Muslim, but not to Muslims, then no one has the right to criticize them. They are doing an activity to which they are inclined.

Similarly, if we are engaged in writing Deeni books and our form of da’wat is restricted to publications distributed to only Muslims, no one has the right to criticize our Deeni activity because we are not printing books for non-Muslims. If there is someone who distributes books to non-Muslims, and not to Muslims, then no one has the right to criticize him for not distributing to Muslims. Everyone is entitled to engage in any field of Tabligh and Da’wat to which his heart inclines.

The Tabligh Jamaat is not denying that Rasulullah (sallallahu alayhi wasallam) had called non-Muslims to Islam. But what is wrong with calling Muslims who have become like non-Muslims back to the Path of Islam? And, did Rasulullah (sallallahu alayhi wasallam) not give da’wat to Muslims? Those who deny this, must produce their evidence. Did Rasulullah (sallallahu alayhi wasallam) not spend 23 years teaching Muslims how to perform Salaat, Fast, perform Hajj, trade, get married, bury the dead and all the thousands of masaa-il related to all the departments of Islam? Who taught the Sahaabah all the rules of Islam? Were the Sahaabah Muslims or non-Muslims when Nabi-e-Kareem (sallallahu alayhi wasallam) gave them the da’wat of the masaa-il of the Deen?

(2)
The objectors are plain stupid and soft in the brains. The greater part of Rasulullah’s mission was consumed teaching Muslims, not non-Muslims. Once the non-Muslims embraced Islam, the da’wat did not end with their acceptance of Islam. In fact the da’wat then commenced and continued until the demise of Rasulullah (sallallahu alayhi wasallam) to Muslims.

What is wrong if anyone spends 3 days, 40 days and 4 months in the path of Allah? What is wrong if someone spends one hour in the path of Allah? What is wrong if someone spends 10 minutes or 10 years in the Path of Allah? What is their logical and Shar’i basis for this stupid objection? When some of these objectors go for Umrah for 19 days or five days or one month, then are they committing a haraam deed because they do not spend exactly the same time in Umrah as Rasulullah (sallallahu alayhi wasallam) had done?

Even if there is no specific basis for the specific methodology of the Tablighi Jamaat, the question to be asked is: “On what basis does this methodology conflict with the Sunnah?” Why would this methodology not be permissible? And, why would the methodology of publications, Madaaris, Khaanqas, etc. be permissible? The objectors should present arguments based on the principles of the Shariah to vindicate their case. Personal opinion and stupid logic have no Shar’i validity.
The objections of the detractors have to be rejected and dismissed as utterly baseless. There is no Shar’i substance in their objections.

(2) We thank you for the good dua you have expressed for us, Jazaakallaah. May Allah Ta’ala keep you and family with aafiyat.

Was-salaam

A.S. Desai
For
Mujlisul Ulama of S.A.
( Sumber :http://rapatsetia.wordpress.com)

Ulama Jemaah Tabligh -AlAlostari

Ulama-Ulama Besar Pendukung Jemaah Tabligh

(Danau Singkarak, Padang Panjang)


1. Maulana Muhammad Ilyas Kandahlawi rah

Pencetus kembali usaha dakwah sebagaimana yang berlaku di zaman awal Islam yakni di zaman Rasulullah saw dan Sahabat ra. Beliau berketurunan Sahabat besar Abu Bakar As Siddiq. Keluarga beliau dikenali sebagai keluarga ahli ilmu dan agama. Berasal dari Jhanjana Muzaffarnagar, Uttar Pradesh, India. Nama asal beliau adalah Akhtar Ilyas. Masa kecil beliau banyak dihabiskan di Madrasah samada Madrasah keluarga beliau maupun madarah besar di India. Beliau pernah berguru selain dari keluarga beliau yang terdiri dari bapa beliau sendiri, Maulana Yahya rah, Maulana Ismail rah. Manakala guru beliau di madrasah sekitar India ialah Maulana Abd.Rasyid Ahmad Ganggohi rah, Maulana Khalili Ahmad rah, Maulana Asyraf Ali Thanwi rah, Maulana Mahmudul Hassan rah. Dan ramai lagi yang tidak tercatit di sini. Hampir kesemua guru-guru beliau adalah pengarang-pengarang kitab muktabar serta tokoh-tokoh besar ulama benua India.

Antara kitab karangan beliau yang terkenal adalah Al Abwabul Muntakhabah min Misykatul Musabbih


2. Maulana Muhammad Yusof Kandahlawi rah.

Beliau adalah putera kepada Maulana Ilyas rah. Belaiu termasuk seorang ulama besar India. Belaiu telah memiliki karya beberapa kitab dalam bahasa A’rab. Antaranya Hayatus Sahabah dalam 3 jilid besar, Amanil Ahbar Syarh Ma’anil Atsar, Muntakhab Ahadis. Beliau juga termasuk seorang guru kepada Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, Makkah ( Al’Iqdul Farid :16 )


3. Maulana In’amul Hassan Kandahlawi rah.

Beliau termasuk seorang ulama besar India yang oleh Syeikhul Hind (Maulana Mahmudul Hasan rah) dijuluki sebagai “Gudang Mufti” Beliau juga termasuk salah seorang guru kepada Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki, Makkah (Al’Iqdul Farid: 16)


4. Maulana Zhafar Ahmad Thanwi rah.

Beliau adalah penyusun kitab I’laa Ussunan (Ahadis Ahkam, terdiri dari 21 jilid, satu jilid khusus membahaskan pentingnya bermazhab dan bantahan untuk gulongan Wahabbi dan ghoiru Muuqallid. ( Al’iqdul Farid: 15)


5. Syeikhul Hadis Maulana Muhammad Zakaria Kandahlawi rah

Seorang pakar hadis yang menulis banyak kitab, antara lain: Al Abwab Wat Tarajim Lishohihil Bukhori, Awjazul Masalik Syarh Muwathok Imam Malik 15 jilid. Syarh Syamail Tirmizi, Al I’tidal fi Maratibir Rijal serta takhrij hadis beberapa kitab. Kitab yang paling terkenal adalah Fadhoil A’mal. Beliau pernah mengajar di Madinatul Munawwaroh. (Al’Iqdul Farid : 15)


6. Maulana Manzhur Nu’mani rah.

Penulis kitab terkenal Inqilabu Iran (Iran Revolution) kitab yang menedahkan hakikat Revolusi Iran dan perancangan Syiah. Telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa.


7. Sayyid Abul Hasan Ali An Nadwi rah.

Mudir Madrasah Nadwatul Ulama Lucknow, India. Bekas pemimpin Rabithah Adab Al Islami, Direktur Pusat Studi Islam Oxford dan anggota berbagai badan-badan Islam di negara-negara A’rab. Antara kitab-kitab tulisan beliau : Rijalul Fikri Wad Dakwah, Madza Khosiro ‘Alam Binhithotil Muslimin, Qashassul Nabiyyin, Sirah Nabawiyah. Beberapa kitab beliau mendapat penghargaan badan antarabangsa dan sebahagian tulisan beliau telah diterjemah dalam berbagai bahasa. Beliau juga adalah penulis kitab Biografi Maulana Muhammad Ilyas rah.



(Petikan dari kitab Meluruskan Kesalahfahaman Terhadap Jemaah Tabligh muka surat : 8- 9, Karangan Mulwi Ahmad Harun Al Rasyid , Temboro,Magetan Indonesia dengan sedikit pindaan untuk kesesuaian dalam Bahasa Malaysia)

Tah Salah Jadi Tabligh 1 - AlAlostari

Tuesday, February 24, 2009
Tak Salah Jadi Tabligh Tapi . . . . . .( Jawapan 1 )


Telah menjadi lumrah dalam masyarakat kita sekiranya suami tinggalkan isteri untuk beberapa bulan atau beberapa tahun demi kerana kemewahan hidup menjadi perkara yang disenangi dalam masyarakat.Tidak akan ada cemuhan, cacian , kritikan samaada dari isterinya sendiri, keluarga terdekat mau pun masyarakat. Ada beberapa teman yang ke Dubai kerana berkerja, penulis mendapati lansung tidak ada bangkangan dari isteri, keluarga terdekat maupun kawan-kawan sepejabat. Malah sokongan dan galakan yang diberikan. Tinggalkan isteri dan anak-anak bukanya sebulan dua malah bertahun-bertahun.

Kalau ditanya pada isteri. “ Kalau abang ke Dubai, nanti siapa yang akan jaga anak-anak kita?”.Pasti dan pasti kita akan dapati si isteri akan menjawab sepontan,” Tentulah I yang akan jaga mereka semua, kan I ni ibu mereka”. Kalau ditanya pula pada mentua, “Siapa yang akan hantar anak-anak saya ke sekolah nanti kalau saya keluar negara?”. Juga pasti dan pasti si mentua akan berkata,” Kalau bukan atok mereka yang uruskan siapa lagi, kan mereka tu cucu abah, Jangan bimbang, abah akan uruskan semuanya.” Kalau ditanya pula pada kawan-kawan sepejabat,” Aku dapat tawaran kerja di Dubai, gaji bulanan USD 15,000.00 belum dikira elaunnya lagi, amacam?” Pastinya kita akan dapati jawapannya ,” Ini peluang keemasan, jangan kau lepaskan. Bukannya senang nak dapat tawaran macam ni.” Kalau ditanya pula pada Imam Masjid atau Ustaz tempatan. Pasti akan didapati jawapan tegas seperti berikut,”Islam menyuruh kita mencari rezeki, kalau dicatatkan rezeki kamu kat Dubai, pergi kamu jangan tak pergi, itu semua dikira ibadah. Paham kamu !.”

Sebaliknya kalau ada sesaorang yang bercadang untuk khuruj (keluar) bersama rombongan Jemaah Tabligh. Meninggalkan pekerjaan dan keluarga SEBENTAR, pasti dan pasti segala cemuhan dan kritikan akan datang dari semua gulungan. Isteri akan protes, “Kalau macam ni siapa yang akan menjaga anak-anak kita, tak kan saya nak urus semua. Abang telah abai tanggungjawab sebagai seorang suami,bang.” Kalau bagi tau pada mentua, jawapannya mungkin begini,” Hang jangan jadi gila, anak dan cucu aku sapa nak bagi makan, awat hang nak sukhuh depa semua makan pasiaq.” Kalau ditanya pandangan kawan-kawan sepejabat, mungkin jawapannya begini,” Woi ! hang nak jadi mamak cendol ke? Pakistan jual kapet ke? atau nak jadi Mat Bangla? Dah jangan dok buat perkara mengakhut.” Kalau ditanya pada Tok Imam atau Pak Ustaz pula , Mungkin jawapannya macam ini,” Mai hang dok sini, ni aku nak bagi tau hang Islam tak sukhoh buat macam ni semua. Mana nafkah zahir mana nafkah batin. Ada pun meninggalkan anak isteri sebegini adalah HARAM dalam Islam. Cuba hang pikiaq”.

Begitulah dua keadaan yang boleh kita dapati dalam masyarakat kita. Sebab apa, keluar negara untuk KERJA semuanya sokong dan beri galakan serta bersedia menanggong kesusahan dan kepayahan. Sebaliknya untuk bersama Jemaah Tabligh bukannya bertahun hanya 3 hari 40 hari atau 4 bulan akan ada cemohan, kritikkan dan bangkangan. Ini adalah kerana hala tuju kehidupan kita adalah “dananir wa darahim”. Matlamatnya adalah keduniaan semata. Ini adalah kerana untuk kerja , nampak kemewahan dunia. Sebaliknya untuk Jemaah Tabligh tak nampak kemewahan dunia. Sedangkan keluar bersama Jemaah Tabligh ini adalah satu tarbiah keagamaan untuk diri keluarga dan masyarakat. Lihat di dalam “Al Qaulul Baligh Fi Jamaahtu Tabligh” karangan Syekh Abu Bakar Jaber Al Jazairi.Juga tulisan Syeikh Ahmad Harun Al Rasyid, ulama hadith Pondok Pesantren Al Fatah, Temboro, Indonesia di dalam buku beliau “Melurus salah faham terhadap Jemaah Tabligh”, menyatakan bahawa hasil dari “Khuruj” itu akan tercapai perkara berikut :

A ) Membangkitkan perasaan khairah untuk mengamalkan agama secara sempurna dalam peribadi setiap muslim.

B ) Bagi menyedarkan diri kita bahawa dakwah adalah tanggungjawab setiap individu umat ini.

C ) Agar setiap orang Islam dapat berusaha mengujudkan kehidupan yang Islami dalam diri, keluarga dan masyarakatnya.

Ini semuat terbukti melalui kehidupan para sahabat rahum dan juga terbukti hari ini di sesetengah tempat seperti di Sri Langka yang peratus beramal dengan agama begitu tinggi dan kadar peratus solat berjemaah mencecah 100% di setiap tempat orang-orang Islam di sana. Membetulkan diri, keluarga dan masyarakat telah difatwakan oleh sesetengah ulama adalah “FARDU AIN”.

Wallahu’alam

Ahad, 18 Julai 2010

Blog Al Alorstari

Cerita Mimpi Nabi TGHH

(Di bawah ini penulis letakan satu posting terakhir (setakat ini) dari rakan seusaha di Tranungkite.net pada topik “Alhamdulillah Najib Menyertai Tabligh Semuga Dapat Hidayat”)


sejadahipoh
Laskar Muda

Askum,

Untuk jawab soalan Tabligh-PAS ini, eloklah rujuk Ustaz Abdul Hadi Awang.

Ana telah berpengalaman berjumpa dengan dua orang berkenaan masalah ini.

1. Hafiz Hatta (pelajar Madrasah Kubang Bujuk, Terengganu)

Dia bersama jama'ah Pakistan 4 bulan diputuskan untuk keluar di Masjid Rusila, Terengganu. Setibanya di Masjid itu, Ustaz Abdul Hadi dan rakan2nya telah siap menunggu ketibaan jama'ah dan TGHH telah menjemput jama'ah ini untuk makan dirumahnya. Dia sempat bertanya jika ada ulama di dalam jama'ah agar mudah berbicara arab dengannya. TGHH banyak berbual dengan mu'alim jamaah itu. Selepas balik ke masjid, maulana itu menceritakan kepada ahli jama'ah yg TGHH telah bermimpi Rasulullah saw malam sebelum kedatangan jamaah itu. Badan Rasulullah saw separuh di dalam tanah dan Rasulullah saw mengatakan kepada TGHH bahawa jama'ah baginda akan datang dan menyuruh TGHH melayan jama'ah itu.

2. Ustaz Jamaluddin (bekas pelajar Penanti)

Ustaz telah bermuzakarah dengan jamaah di markaz PAS di Terengganu selepas Isya sampai hampir waktu Subuh. Orang2 PAS di markaz itu masih tidak berpuas. Lantas salah seorang dari jama'ah itu mengatakan agar mereka semua berjumpa dengan 'POK CHIK' (gelaran TGHH). Mereka cuba menelefon TGHH tapi tiada jawaban, lantas Ustaz Jamaluddin memberi satu hadis yang jika seorang tanda mukmin ialah memuliakan tetamu. Maka mereka semua pergi ke rumah TGHH. Bila TGHH tahu masalah berkenaan ahli2 PAS yang tidak bersetuju dengan Tabligh, TGHH telah mengambil satu kitab dan membaca DALIL-DALIL Tabligh di hadapan mereka semua. Selepas itu, TGHH menasihatkan Ustaz Jamaluddin agar MENERUSKAN USAHA TABLIGH, DAN JANGAN LAYAN MEREKA-MEREKA YANG JAHIL INI (sambil merujuk kepada ahli2 PAS yang tidak bersetuju itu).

Pengalaman Penulis Bersama Jemaah Tersebut:

Pada tahun 1989/90 penulis tinggal di Ceras di kawasan Ceras Flat serta dilantik menjadi imam serta mengajar tajwid di salah satu surau di kawasan tersebut. Ianya adalah marhalah keempat penulis ketika tinggal di Kuala lumpur. Pada akhir 1989 Jemaah Pakistan tersebut sampai di tempat kami (Ceras) dan berusaha di sekitar kawasan tersebut selama satu minggu sebelum bertolak untuk keluar 4bulan di Indonesia. Jemaah tersebut sebenarnya adalah jemaah satu tahun. Kebanyakannya adalah dari Peshawar, Pakistan. Selama seminggu di Ceras penulis, berkesempatan bersama jamaah berkenaan dan maulana yang di dalam jemaah tersebut cukup rapat dengan penulis berlebih lagi penulis berbahasa Arab dengan beliau bagi melancarkan bahasa Arab penulis. Penulis sering bersama maulana berkenaan untuk ‘khususi’ dan sebagainya.

Jemaah ini satu jemaah yang cukup bagus yang pernah penulis ‘nusrah’. Satu hati, satu fikir serta kuat amalan istimai dan juga infiradi. Setiap malam yang penulis dapat pasti, hampir kesemua ahli jemaah akan bagun bertahajud sekitar jam 3.00 pagi. Tidak ada seorang pun yang tercicir. Dalam jemaah tersebut terdapat 5/6 orang muda dan boleh berbahasa Inggeris. Pernah penulis bertanya kepada mereka bagaimana tertib usaha di Peshawar (ketika itu bertebung dengan jihad di Afganistan) kata salah seorang ahli jemaah kepada penulis bahawa mereka ada tertib khusus yang di benarkan oleh Elders Nizamuddin iaitu 4bulan belajar madrasah, 4bulan berjihad di Afghanistan dan 4bulan keluar di Jalan Allah (keluar Tabligh). Bagi yang berkeluarga 4bulan belajar madrasah diganti dengan 4bulan bersama keluarga.

Jemaah mereka adalah jemaah satu tahun dan kedatangan mereka ke Malaysia adalah transit sementara untuk ke Indosesia selama 4bulan dan untuk mendapat visa di Malaysia untuk ke Saudi mengerjakan haji setelah pulang dari Indonesia. Setelah pulang jemaah ini berusaha di sekitar Terengganu untuk beberapa waktu dan akhir sekali kembali ke Ceras sebelum bertolak ke Saudi mengerjakan haji. Mereka terkesan dengan nusrah dari rakan seusaha di Ceras dan memutuskan kembali ke Ceras sebelum bertolak ke Saudi. Lagi sekali penulis dan rakan-rakan di Ceras nusrah jemaah ini. Namun kali ini cerita sensasi di atas menyebabkan ramai rakan-rakan seusaha di sekitar Kuala Lumpur datang menziarahi dan bertanya kebenaran mimpi TGHH.

Penulis mengambil kesempatan bertanyakan hal berkenaan kepada maulana berkenaan. Ceritanya memang betul jemaah tersebut telah masuk untuk 3 hari di Masjid Rusila yang sebelum ini belum pernah Jemaah Tabligh masuk. Apatah lagi sekitar tahun 1993 TGHH pernah berceramah yang ceramahnya agak keras menghentam jemaah. Sehingga ketika itu keset-kaset ceramah tersebut laris di jual di pasar malam dan juga di jual di hadapan masjid India pada tajuk “Jemaah Tabligh Dan Penyelewengannya” . Selepas di khususi, tajuk itu ditukar kepada “Jemaah Tabligh Dan Amalanya”. Kata maulana itu lagi bahawa beliau malu kerana bajunya agak berbau namun di peluk erat oleh TGHH. Begitu juga dengan ahli jemaah yang lain. Selama tiga hari di Masjid Rusila TGHH mengosongkan kuliah beliau dan membenarkan jemaah memberi bayan.Memang pun TGHH bermimpi Nabi saw sebagaimana cerita di atas.

Selepas beberapa hari di Ceras jemaah tersebut berangkat ke Tanah Suci untuk mengerjakan haji. Tahun yang sama penulis beserta dengan abang dan rakan seusaha di kampong Kedah serta rakan seusaha di Kuala Lumpur telah dipileh oleh Allah swt untuk menegrjakan haji. Ketika berada di Tanah Suci sekali lagi penulis berjumpa dengan maulana berkenaan yang sedang memberi “dakwah infradi” kepada beberapa orang Arab di ruang legar Masjid Nabi saw. Patutlah jemaah ini menjadi asbab TGHH bermimpi Nabi saw kerana amalan mereka sememangnya “HEBAT”.

Wallahu’alam.